Perjalanan Kecil Menuju Diri yang Lebih Besar

Namaku Kayla Nurzaqiah. Seseorang yang selalu menyimpan mimpi-mimpi kecil di sudut hati, mimpi yang pelan-pelan tumbuh menjadi harapan yang sangat ingin kuperjuangkan. Dan dari sekian banyak tempat di dunia ini, ada satu kota yang selalu terasa memanggilku dengan lembut: Bandung.

Foto 1
Kayla Nurzaqiah - Penulis
Foto 2
Gedung Sate Bandung

Bandung, satu kota yang sangat ingin sekali aku singgahi untuk meraih semua mimpiku. Mulai dari pendidikan, karier, sampai masa depanku sendiri. Sepuluh tahun yang akan datang—entah di sebuah pagi yang cerah atau malam yang penuh lampu kota—aku membayangkan diriku menetap di sana. Membawa mimpi-mimpi yang tak berani kuucapkan keras-keras, membawa harapan yang kubangun sedikit demi sedikit, dan membawa angan yang selama ini hanya berdiam di pikiranku.

Aku melihat diriku bekerja di sebuah perusahaan besar, berdiri di balik meja sebagai seorang Business Development Manager. Pekerjaan itu bukan sekadar jabatan bagiku. Ia adalah pertemuan antara keberanian, komunikasi, dan naluri membaca kesempatan. Aku ingin berada di posisi yang bisa melihat satu peluang kecil, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang bernilai untuk banyak orang.

Tapi jauh di balik ambisi karier itu, ada mimpi yang lebih lembut, lebih manusiawi. Aku ingin memiliki usahaku sendiri—usaha yang tidak hanya menghidupkan mimpiku, tetapi juga membuka pintu bagi mereka yang membutuhkan pekerjaan. Aku ingin memberi kesempatan kepada orang-orang yang mungkin selama ini tidak pernah diberi ruang. Dan dari keinginan itulah lahir sebuah gagasan yang kusimpan rapi: membangun “Rumah Kasih”.

Rumah Kasih bukan gedung besar, bukan tempat megah yang penuh kemewahan. Ia hanya sebuah tempat sederhana, kecil mungkin, tapi hangat. Tempat untuk anak-anak jalanan yang menahan lelah sendirian. Tempat untuk orang tua yang kehilangan rumah, kehilangan arah, kehilangan dunia. Jika dunia sering kali terasa keras, aku ingin membuat sudut kecil yang terasa lembut.

Untuk mencapai semua itu, aku tahu aku harus berjalan dari pendidikan yang tepat. Karena itulah aku ingin melangkah ke Telkom University—kampus teknologi yang rasanya selalu dikelilingi gagasan baru. Di sana aku ingin mengambil Bisnis Digital, jurusan yang menurutku paling cocok dengan zamanku dan mimpiku. Aku bisa membayangkan diriku duduk di kelas, dikelilingi anak-anak muda yang pikirannya penuh cahaya. Belajar tentang inovasi, strategi bisnis modern, dunia digital yang terus berubah, dan bagaimana teknologi bisa menjadi jembatan menuju masa depan.

Aku ingin menjadi Kayla yang lebih kuat sepuluh tahun nanti. Bukan Kayla yang sempurna, hanya Kayla yang berani bermimpi dan lebih berani lagi untuk mewujudkannya. Kayla yang bekerja untuk masa depannya, membangun untuk orang lain, dan memberikan kembali cinta yang pernah ia terima dari dunia.

Dan semua itu bermula dari sini—dari mimpi sederhana yang kutitipkan pada sebuah kota bernama Bandung, dan dari seorang gadis bernama Kayla Nurzaqiah, yang percaya bahwa masa depan bisa tumbuh dari kata “ingin”.